Home > Uncategorized > Sejarah Desa Tejakula

Sejarah Desa Tejakula

Hiliran dan Peminggir 

Image

Menurut piagam Janasadhu Warmadewa, yang memerintah pada tahun 975 tarikh masehi yang kini prasastinya disimpan di Desa Sembiran antara lain disebutkan : “Apabila ada kerusakan-kerusakan pura, kuburan, pancoran, permandian, prasada (candi), jalan raya yang ada disebelah utara maupun disebelah selatan, harus penduduk desa-desa Julah, Idrapura, Buwundalem dan Hiliran berganti ganti memperbaikinya, juga mengeluarkan biayanya karena penduduk desa-desa jnj semuanya memuja pura atau khayangan itu. 

Dari analisis Tim Peneliti (Bpk Ketut Suwidja, BA, dkk) bahwa yang dimaksud Hiliran pada piagam tersebut tidak lain adalah Desa Tejakula yang kita kenal saat ini.

Kemudian nama Hiliran ini diganti dengan nama “Paminggir” sebagaimana disebutkan dalam prasastinya Raja Jayapangus yang bertahun 1181 tarikh masehi : “Selanjutnya penduduk desa banyubwah dilarang memberikan/mengi.-dangkan makanan kepada orang-orang dari Desa Manasa, biar orang-orang itu berkasta apa saja dan golongan apa saja ,terutama kepada rakyat dari Desa Paminggir.

Selain itu kata “Paminggir”disebutkan lagi dalam prasasti raja Ekajaya Lancana berangka tahun 1200 tarikh Masehi yang antara lain berbunyi : ”Apabila ada orang-orang dari desa sekitar Lintang danu, berjualan ke desa-desa Les,Paminggir, Buhundalem, Julah, Purwasiddhi, Indrapura, Bulihan dan Manasa, hal ini telah diputuskan tidak diperkenankan oleh undang-undang yang tersebut di dalam prasasti anugraha dari Sri Paduka Maharaja yang ditujukan kepada sekalian penduduk Kintamani.

Jadi kalau kita perhatikan letak desa-desa yang telah diurut diatas, yang dimulai dari timur maka nyatalah bahwa desa yang letaknya disebelah barat desa Les, yakni desa Paminggir adalah Desa Tejakula sekarang, kemudian ke barat lagi ialah desa Bondalem,Julah dst. Jadi jelaslah bahwa yang dimaksud Desa Paminggir itu ialah Desa Tejakula.

Sumber lain juga menyebutkan bahwa pada awig-awig yang selesai ditulis pada tahun 1932 menyebutkan nama desa Liran sebagai nama desa Tejakula (Liran berasal/disingkat dari kata Hiliran yang berarti hilir).

Kemudian dalam perkembangan selanjut nya berubah menjadi Tejakula yang dalam bahasa sansekerta Teja berarti sinar atau cahaya, sedangkan kula juga berarti tepi atau pinggir. Menurut cerita orang tua-tua, dahulu, dilihat pancaran sinar yang sangat terang jatuh dipesisir timur desa ini sehingga diabadikan dalam nama yang kita kenal dengan Tejakula.

Ada juga cerita menyebutkan bahwa suatu ketika pada jaman penjajahan desa ini terkepung oleh musuh, namun tiba-tiba muncul asap tebal dan mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan sehingga musuh tidak dapat melihat pasukan kita. Dengan kejadian itu kemudian para tetua memberi nama Tejakukus Namun kecendrungan tokoh-tokoh desa selanjutnya tetap mempertahankan nama Tejakula yang pada mulanya diartiakan Cahaya yang jatuh di pinggir desa, dalam perkembangannya saat ini diterjemahkan menjadi “Ida Bethara menyinari rakyatnya”


Dengan demikian diharapkan Ida Sanghyang Widhi wasa akan selalu melindungi dan memberikan tuntunan jalan yang benar kepada semua karma desa.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Berikan Komentar

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: