“Om Swastyastu”

9 September 2009 1 comment

Tejakula

Sebagai awal dari semua ini, terima kasih yang setinggi-tingginya saya haturkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa karena atas Karunia Beliau maka pada hari ini tanggal 09 Bulan September di Tahun 2009 (09/09/09) blog Desa Tejakula bisa saya publikasikan.

Blog ini dibuat untuk memberikan sumbangan informasi kepada siapa saja yang ingin mengetahui berbagai hal tentang Desa Tejakula, terutama krama Tejakula yang tinggal di luar Desa Tejakula.

Harapan saya, semoga blog ini bermanfaat untuk kita semua.

Om Santih, Santih, santih, Om.

Sejarah Desa Tejakula

Hiliran dan Peminggir 

Image

Menurut piagam Janasadhu Warmadewa, yang memerintah pada tahun 975 tarikh masehi yang kini prasastinya disimpan di Desa Sembiran antara lain disebutkan : “Apabila ada kerusakan-kerusakan pura, kuburan, pancoran, permandian, prasada (candi), jalan raya yang ada disebelah utara maupun disebelah selatan, harus penduduk desa-desa Julah, Idrapura, Buwundalem dan Hiliran berganti ganti memperbaikinya, juga mengeluarkan biayanya karena penduduk desa-desa jnj semuanya memuja pura atau khayangan itu. 

Dari analisis Tim Peneliti (Bpk Ketut Suwidja, BA, dkk) bahwa yang dimaksud Hiliran pada piagam tersebut tidak lain adalah Desa Tejakula yang kita kenal saat ini.

Kemudian nama Hiliran ini diganti dengan nama “Paminggir” sebagaimana disebutkan dalam prasastinya Raja Jayapangus yang bertahun 1181 tarikh masehi : “Selanjutnya penduduk desa banyubwah dilarang memberikan/mengi.-dangkan makanan kepada orang-orang dari Desa Manasa, biar orang-orang itu berkasta apa saja dan golongan apa saja ,terutama kepada rakyat dari Desa Paminggir.

Selain itu kata “Paminggir”disebutkan lagi dalam prasasti raja Ekajaya Lancana berangka tahun 1200 tarikh Masehi yang antara lain berbunyi : ”Apabila ada orang-orang dari desa sekitar Lintang danu, berjualan ke desa-desa Les,Paminggir, Buhundalem, Julah, Purwasiddhi, Indrapura, Bulihan dan Manasa, hal ini telah diputuskan tidak diperkenankan oleh undang-undang yang tersebut di dalam prasasti anugraha dari Sri Paduka Maharaja yang ditujukan kepada sekalian penduduk Kintamani.

Jadi kalau kita perhatikan letak desa-desa yang telah diurut diatas, yang dimulai dari timur maka nyatalah bahwa desa yang letaknya disebelah barat desa Les, yakni desa Paminggir adalah Desa Tejakula sekarang, kemudian ke barat lagi ialah desa Bondalem,Julah dst. Jadi jelaslah bahwa yang dimaksud Desa Paminggir itu ialah Desa Tejakula.

Sumber lain juga menyebutkan bahwa pada awig-awig yang selesai ditulis pada tahun 1932 menyebutkan nama desa Liran sebagai nama desa Tejakula (Liran berasal/disingkat dari kata Hiliran yang berarti hilir).

Kemudian dalam perkembangan selanjut nya berubah menjadi Tejakula yang dalam bahasa sansekerta Teja berarti sinar atau cahaya, sedangkan kula juga berarti tepi atau pinggir. Menurut cerita orang tua-tua, dahulu, dilihat pancaran sinar yang sangat terang jatuh dipesisir timur desa ini sehingga diabadikan dalam nama yang kita kenal dengan Tejakula.

Ada juga cerita menyebutkan bahwa suatu ketika pada jaman penjajahan desa ini terkepung oleh musuh, namun tiba-tiba muncul asap tebal dan mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan sehingga musuh tidak dapat melihat pasukan kita. Dengan kejadian itu kemudian para tetua memberi nama Tejakukus Namun kecendrungan tokoh-tokoh desa selanjutnya tetap mempertahankan nama Tejakula yang pada mulanya diartiakan Cahaya yang jatuh di pinggir desa, dalam perkembangannya saat ini diterjemahkan menjadi “Ida Bethara menyinari rakyatnya”


Dengan demikian diharapkan Ida Sanghyang Widhi wasa akan selalu melindungi dan memberikan tuntunan jalan yang benar kepada semua karma desa.

Melacak Ihwal Pura Dalem Balingkang

30 October 2012 Leave a comment

REDITE Umanis Warigadian hari upacara piodalan di Pura Dalem Balingkang, Desa Pinggan, Kintamani, Bangli. Lokasinya, dari Denpasar mengikuti jalur Denpasar-Singaraja lewat Kintamani, dan di Pura Pucak Panulisan menuju arah timur laut kira-kira 15-20 km. Tempatnya sangat unik dikelilingi Sungai Melilit, yang dianggap sebagai benteng utama menuju ke Kerajaan Balingkang. Bagaimana sesungguhnya ihwal Pura Dalem Balingkang ini?

 

Dalam Prasasti Sukawana (Goris, 1954) disebut, Desa Sukawana diserang hujan badai dan Keraton Jaya Pangus hancur, sehingga jong les pindah ke Balingkang. Keberadaan Pura Dalem Balingkang (PDB) sebagai pura maupun sebagai Keraton Raja Bali Kuna tercatat pula dalam “Pengeling-eling Desa Les-Penuktukan, Tejakula, Buleleng” yang dikeluarkan oleh Raja Jaya Kasunu sekitar abad ke-11. Ia tercatat sebagai leluhur Raja Jaya Pangus Harkajalancana.

Masyarakat Bali dewasa ini terbagi menjadi dua kelompok utama — Bali Mula (Aga) dan Bali Majapahit. Prof. Dr. I Gusti Bagus (alm.) dalam tulisannya “Kebudayaan Bali” (1979) menyebut, masyarakat Bali Mula mendiami daerah pegunungan di Bali, sedangkan Bali Majapahit mendiami daerah dataran. Bahasanya pun berbeda, disebut “omong negari” dan “omong pojol” oleh masyarakat Bali Mula.

Dua Permaisuri
Dalam konteks PDB, nama balingkang berasal dari kata “bali + ing kang”. Secara tuturan dan bukti tertulis, ini dikaitkan dengan pernikahan Raja Jaya Pangus Harkajalancana yang memerintah pada tahun saka 1103-1191 atau 1181-1269 Masehi. Raja Jaya Pangus punya dua permaisuri, Paduka Bhatari Sri Parameswari Indujaketana dan Paduka Sri Mahadewi Cacangkaja Cihna — (Cihna-Cina). Dalam cerita rakyat yang berkembang disebut, istri Cinanya bernama Kang Ci Wi, putri Tuan Subandar pedagang dari Cina. Maka digabunglah Bali-Ing-Kang jadi Balingkang.

Masyarakat Bali Kuna di sekitar Danau dan Gunung Batur tercatat amat sulit ditundukkan oleh Raja Sri Kresna Kepakisan yang ditempatkan oleh Maha Patih Gajah Mada. Sampai dewasa ini, mereka amat sulit terpengaruh oleh budaya Hindu Majapahit. Sampai tahun 2006 ini, Pura Pucak Panarajon belum mau menggunakan Ida Pedanda sebagai Sang Trini-nya, tetap menggunakan Jro Mangku dan Jro Kebayan dengan upacara podgala atau mewinten pang solas.

Masyarakat Bali Mula di sekitar Danau Batur menyebut dirinya dengan Gebog Domas (Kelompok Delapan Ratus). Kelompok ini dibagi jadi empat bagian Gebog Satak (Dua Ratus) Sukawana, Kintamani, Selulung dan Bantang. Kelompok ini memiliki Tri Kahyangan yakni (1) Pura Pucak Panarajon sebagai pusatnya terletak di Sukawana, Kintamani, dengan tiga tingkatan pura yang disebut Gunung Kahuripan. Tingkatannya, Pura Panarajon (Ida Bhatara Siwa Sakti), Pucak Panulisan (sejajar dengan pusat pemerintahan — dulu sebagai keraton Raja Jaya Pangus), dan Pucak Wangun Hurip (simbol membangun kehidupan.

(2) Pura Bale Agung di Sukawana dengan Ida Bhatara Ratu Sakti Kentel Gumi, setara dengan Bhatara Brahma, (3) Pura Pusering Jagat — Pura Puseh Panjingan di Desa Les-Penuktukan, Tejakula, Buleleng, berstana Ida Ratu Sakti Pusering Jagat setara dengan Bhatara Wisnu, dan (4) Pura Dalem Balingkang berstana Ida Dalem Kepogan (Dalem Balingkang) setara dengan Dewa Siwa.

Kelompok Satak Sukawana terdiri atas beberapa desa di Kecamatan Kintamani dan Tejakula, Buleleng. Sebagai ikatan yang padu, Desa Pinggan ditugaskan oleh Sukawana sebagai kesinoman membawa surat ke kelompok Tejakula. Di Sukawana banyak ada peninggalan tanah pelaba pura, serta di Balingkang ada 175 ha. Rupanya secara diam-diam keduanya saling menguasai tanah itu.

Pada 1960, Sukawana menugaskan Pinggan mengirim surat ke kelompok Buleleng Timur. Surat itu “disembunyikan” sehingga semua warga Buleleng tak tahu ada upacara di Panarajon. Ini berlangsung sampai 1963, sehingga pada 1964 Sukawana malu menugaskan Pinggan. Akhirnya, kelompok pemuja PDB pada 1964 yakni Pinggan, Siakin, Tembok, Gretek Sambirenteng, Les-Penuktukan menyatakan keluar dari kelompok Sukawana dan membuat kelompok baru bernama Gebog Satak Balingkang.

Lalu, sejak 1964 kelompok pemuja Pura Pucak Bukit Indra Kila, Desa Dausa, Kintamani juga melepaskan diri dari Pura Panarajon.

PDB yang dipuja kelompok Gebog Satak Balingkang, juga dipuja oleh warga masyarakat di sekitar Desa Petak, Gianyar. Ini terjadi karena ada hubungan historis dengan keluarga Puri Petak Gianyar. Secara faktual, di utama mandala bagian sisi selatan ada kompleks bangunan pura lengkap dengan sanggar agung, meru 11 (tingkat 11), sebagai pemujaan Ida Dalem Klungkung (Raja Klungkung) dan meru 9 (tingkat 9) sebagai pemujaan pada Ida Dalem Bangli (Raja Bangli).

Menurut Ida Cokorda Dalem Balingkang dalam disertasinya di Surabaya pada 1989, menyebut tentang keberadaan leluhurnya di PDB serta fungsi meru 11 dan meru 9 di utama mandala. Dituturkan, semua itu ada kaitan dengan saat sesudah penyerbuan Panji Sakti ke Bintang Danu pada 1772. Waktu itu, Dewa Agung Mayun Sudha adalah Raja Pejeng, Gianyar. Ia diserang oleh penguasa dari Puri Blahbatuh, Puri Peliatan, Puri Gianyar, dan Puri Ubud.

Karena lawannya banyak, pasukan Puri Pejeng terdesak. Dewa Agung Mayun Sudha yang merasa terdesak, bersama piluhan anak buahnya lari menyelamatkan diri ke arah pegunungan. Rombongan ini bersembunyi di sekitar PDB yang saat itu bangunannya telah terbakar, tinggal dasarnya saja. Bersama rombongannya, Dewa Agung Mayun Sudha memimpin merabas hutan seluas 175 ha. Ia mengajak warga membangun kembali PDB sehingga pelan-pelan menjadi lengkap.

Setelah puranya dibangun, diadakanlah upacara dengan dukungan Raja Bangli serta Raja Klungkung. Akhirnya, hubungan Dewa Agung Mayun Sudha dengan Raja Bangli dan Raja Klungkung makin baik. Suatu hari, Dewa Agung Mayun Sudha memohon bantuan pada Raja Bangli dan Klungkung akan merebut kembali kerajaannya. Disarankan, agar diserang Desa Petak dulu, sebagai tempat berpijak. Dengan bantuan pasukan Raja Klungkung dan Bangli, Desa Petak yang terdiri atas sepuluh dusun dapat dikuasai, sehingga Dewa Agung Mayun Sudha berkuasa di sana.

Untuk mengenang dan memuliakan Ida Bathara Dalem Balingkang, maka Dewa Agung Mayun Sudha bergelar Ida Cokorda Putra Dalem Balingkang. Sampai saat ini, keluarga Puri Petak menjadi pemuja utama di PDB, selain Gebok Satak Balingkang.

Struktur Pura

Struktur PDB termasuk unik, karena dulu konon dijadikan istana raja yang menghindari serangan raja lainnya. Dalam beberapa pustaka ada disebut, PDB sebagai istana Raja Maya Danawa. Raja ini dikalahkan oleh Bathara Indra dari Tampaksiring. Namun dalam naskah lontar “Linaning Maya Danawa” dikisahkan Maya Danawa mati terbunuh oleh Ki Kebo Parud — utusan Raja Kerta Negara yang menyerang dari utara.

Dalam struktur PDB, di awal adalah kompleks Pura Tanggun Titi — ujung jembatan dan ada sumber air. Di sumber air ini kerbau disucikan sebelum mepepada. Di kompleks Pura Tangun Titi ada pemujaan Ratu Ngurah Sakti Tanggun Titi, Ratu Mas Melanting, Ratu Sakti Gede Penyarikan, dan Sang Hyang Haji Saraswati. Kompleks kedua setelah melewati tanah lapang yang dulu difungsikan membangun tempat penginapan, ada bangunan cangapit, yakni pintu masuk yang dilengkapi tempat duduk raja saat menyaksikan jro gede mepada mengelilingi pura.

Di jaba tengah, tak banyak bangunan, hanya ada paruman agung, stana Ida Bhatara Sami, serta palinggih Ratu Ayu Subandar. Palinggih ini sebagai pemujaan pada Kang Ci Wi dan ini amat diyakini oleh masyarakat Cina membawa berkah. Di kompleks utama atau jeroan, dibangun pemujaan Puri Agung Petak dengan meru 11 dan meru 9. Juga dibangun pemujaan Dalem Balingkang dengan gedong bata dan meru 7 — ini mengingatkan pada Sapta Dewata. Ada pula bangunan balai panjang bertiang 24, bertiang 20, dan balai mundar-mundar bertiang 16 (dibagi empat sisi, masing-masing bertiang 4).

 

Sumber tulisan : Speqlen Blog, http://speqlen.co.cc/2008/08/01/pura-dalem-balingkang/

Playlist Desa Tejakula


MusicPlaylistRingtones
Music Playlist at MixPod.com

Untuk dapat menonton video, silahkan klik “GET TRACKS”

LOWONGAN CPNS KABUPATEN BULELENG TAHUN 2009

28 October 2009 1 comment

Singa Ambara RajaPEMDA KABUPATEN BULELENG MEMBUKA KESEMPATAN BAGI ANDA UNTUK MENJADI CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN FORMASI SBB:

TENAGA GURU SEBANYAK 168 ORANG
TENAGA KESEHATAN SEBANYAK 125 ORANG
TENAGA TEKNIS SEBANYAK 151 ORANG

LAMARAN DAPAT DIAJUKAN PADA SETIAP HARI KERJA DI GEDUNG SASANA BUDAYA JALAN VETERAN SINGARAJA DARI TANGGAL 2 NOPEMBER S/D 16 NOPEMBER 2009
SENIN – KAMIS : PKL. 08.00 – 14.00 WITA
JUMAT – SABTU : PKL. 08.00 – 12.00 WITA

PELAKSANAAN UJIAN DILAKSANAKAN PADA HARI MINGGU TANGGAL 29 NOPEMBER 2009.

info lengkap mengenai formasi dan syarat-syaratnya beserta contoh surat lamaran dapat didownload dibawah ini :

LOWONGAN CPNS KAB BLL 2009
contoh surat lamaran CPNS

Catatan : file-file di atas berformat pdf.

ULURKAN TANGAN ANDA….

16 September 2009 Leave a comment

Hidrocephalus Tjk-001

Hidrocephalus Tjk-003

Hidrocephalus Tjk-006

Bersyukurlah kita yang terlahir ke dunia ini dengan anggota tubuh yang lengkap dan normal. Namun jika kita memiliki anak, saudara ataupun warga yang terlahir cacat apakah kita harus berdiam diri? Apa yang bisa kita lakukan buat mengobati rasa malu, sedih juga putus asa dari keluarga-keluarga yang anaknya terlahir cacat??
Melalui jejaring sosial ini, kami ingin mengetuk hati krama Tejakula pun yang lainnya bahwa saat ini di Desa Tejakula tepatnya di Dusun Tegal Sumaga telah lahir bayi penderita Hidrocephalus dari Keluarga Pra sejahtera. Bayi yang lahir melalui operasi caesar di RSUD Singaraja pada tanggal 2 Agustus 2009 ini kepalanya semakin membesar setiap waktu melebihi perkembangan tubuh lainnya. Nyoman Widiada (24) ayah bayi tersebut hanya bisa pasrah dengan keadaan anak pertamanya itu. Ia harus rela meninggalkan pekerjaannya membatik di Blahbatuh Gianyar yang telah digelutinya selama beberapa tahun. Kini ia dengan istrinya Made Simpen, bersama keluarga lainnya berupaya mencari jalan terbaik untuk anaknya tercinta. Dari hasil foto rontgen yang diterima pada tanggal 9 september lalu terlihat jika tempurung kepala bayi tersebut mengalami perkembangan yang tidak normal. Beberapa bagian tempurung kepalanya tidak menyatu sehingga terlihat berlubang. Seandainya tempurung tersebut tidak dibalut oleh kulit kepala, bisa dibayangkan begitu besar penderitaan yang dialami oleh anak sekecil itu. Dari hasil konsultasi dengan beberapa dokter baik di puskesmas Tejakula maupun RSUD Singaraja, disarankan dilakukan operasi di RSU Sanglah Denpasar. Namun smua itu bukan hal mudah bagi kedua orang tua bayi yang kini tidak bekerja tersebut. Uluran tangan dari krama pun saudara lainnya sangat diharapkan bagi keluarga ini agar bisa meringankan beban penderitaan mereka.

TINJAUAN FILOSOFI KEBERADAAN AIR DI DESA PAKRAMAN TEJAKULA

13 September 2009 6 comments

OM AWIGHNAM ASTU NAMA SIDHAM

Desa Pakraman Tejakula sebagai salah satu desa pakraman di Bali memiliki perjalanan yang panjang dan unik, baik dilihat dari segi historis maupun geografisnya. Perjalanan panjang dimaksud yaitu Desa Pakraman Tejakula sebelum bernama Desa Tejakula, diberi nama Hiliran, kemudian disebut dengan Paminggir. Hal ini disebutkan dalam Prasasti Raja Janasadu Warmadewa Icaka Warsa 897 dan juga disebutkan dalam Prasasti Jayapangus tahun Caka 1103 begitu pula dalam Prasasti Raja Ekajaya Lancana tahun Caka 1122 kemudian barulah bernama Desa Tejakula.

Sedangkan keunikannya adalah Desa Pakraman Tejakula yang ada sekarang secara geografis berada di wilayah Kabupaten Buleleng bagian timur namun memiliki hubungan historis secara ritual yang sangat erat dengan Desa Sukawana dan Batur yang sama-sama berada di wilayah Kabupaten Bangli, hal ini terpelihara dari sejak jaman dahulu sampai saat ini.

Hubungan secara ritual antara Desa Pakraman Tejakula dengan Desa Pakraman Batur dan Desa Pakraman Sukawana diterima dari cerita secara turun temurun para leluhur dan dipertegas kembali dalam Purana-purana yang ada di Batur maupun Sukawana khususnya dalam hubungan pelestarian sumber air, sebagai sumber hidup Krama Desa Tejakula utamanya dalam pemanfaatan untuk iragasi maupun kebutuhan hidup sehari-hari.
Berdasarkan isi Pangeling-eling Pepasehan Ida Bhatara Sakti ring Pura Ulun Danu Batur disebutkan bahwa Ida Bhatara ring Pura Ulun Danu berkehendak untuk melimpahkan Anugrah atau Paica kepada panjak – panjak Beliau yang berada di bagian timur Kabupaten Buleleng dalam bentuk Tirta atau Air Suci sebagai sumber kesuburan dan kehidupan dari para Krama desa. Namun sebelum melimpahkan anugrahnya terlebih dahulu Beliau ingin melihat ketulusan rasa bakti dari para krama desa (panjak-panjak Beliau). Atas dasar itu maka Ida Bhatara ring Pura Ulun Danu menjelma menjadi manusia tua renta dengan kondisi fisik yang sangat menjijikkan, menjajakan (menjual) air dengan menjunjung sebuah kendi. Adapun kisah perjalanan beliau adalah sebagai berikut : diawali dari wilayah kanca Satak (wilayah ujung timur kecamatan Tejakula), disekitar Pura Pegonjongan si penjaja air terpeleset sehingga air yang dijunjungnya sedikit tertumpah. Kemudian melanjutkan perjalanan ke arah barat sampai di Desa Les. Masyarakat Desa Les membeli air seharga 2 keteng, dan dilanjutkan ke barat menuju Hiliran (Desa Tejakula sekarang). Masyarakat Hiliran membeli air seharga 3 keteng. Sang penjaja air melanjutkan kembali perjalanannya menuju ke arah barat dan terakhir air tersebut dituangkan di wilayah air sanih.

Dari kisah ini tampak jelas adanya hubungan secara ritual dengan Desa Batur dan Sukawana (Bangli) terhadap kelangsungan pelestarian air di Desa Pakraman Tejakula, sebagai anugrah yang dilimpahkan oleh Ida Bhatara di Ulun Danu Batur dan Ida Bhatara Sukawana dalam wujud Tirta atau Air Suci menjadi kewajiban krama desa Tejakula untuk membayar upeti dalam bentuk aci atau upacara. Kewajiban itu telah dilaksanakan secara terus menerus baik yang pelaksanaannya setiap tahun maupun sepuluh tahun sekali.

Bukti lain keterkaitan secara ritual antara Desa Tejakula, Batur dan Sukawana juga dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan sejarah seperti adanya bangunan suci berupa Pelinggih Meru Tumpang Tiga di Pura Ulun Danu Batur, begitu juga bangunan suci yang berupa bangunan Cang Apit di Pura Desa Sukawana yang mana bangunan ini merupakan salah satu bangunan inti yang berfungsi sebagai tempat medal dan ngeranjing Ida Bhatara pada waktu pelaksanaan upacara di Pura Desa Sukawana. Dibelakang bangunan Cang Apit tersebut tertulis “Pangeling-eling kerama ngewangun palinggih Cang Apit. Indik prabea ngarya kesanggra olih Desa Tejakula, indik lakar wewangunan kesanggra olih Desa Sukawana”.

Kemudian bukti lain keterkaitan Desa Tejakula, Sukawana dan Batur yaitu berdirinya sebuah bangunan suci yang bernama Pura Utus sebagai tempat bersejarah mengingat di lokasi tersebut dipakai sebagai tempat para prajuru desa setiman (45) Desa Sukawana mengadakan Paruman dengan maksud untuk membahas keadaan wilayah bagian utara Desa Sukawana yaitu wilayah Paminggir atau Hiliran (Desa Tejakula sekarang). Dimana daerah tersebut keadaan tanahnya sangat subur oleh karenanya daerah ini sering menjadi rebutan dari orang-orang atau kelompok lain sehingga keamanan daerah paminggir atau Hilirian sangat terganggu. Melihat situasi seperti itu maka demi untuk menjaga keutuhan dan segala keberadaannya, prajuru Desa Sukawana yang berjumlah 45 orang mengambil keputusan antara lain :
1. Prajuru Desa Sukawana membagi diri dalam menata wilayahnya yaitu 23 orang menata wilayah daerah Sukawana bagian selatan dan 22 orang lainnya menata wilayah bagian utara (Paminggir/Hiliran/Tejakula)
2. Prajuru yang berangkat ke daerah Paminggir berjumlah 22 orang didampingi oleh para Pengabih / prajurit / cendek.
3. Segala biaya dalam rangkaian pembangunan, aci atau upacara dan kelangsungannya menjadi tanggungan bersama.
4. Di tempat itu dibangun dua buah bale panjang yang berfungsi untuk kegiatan sangkepan prajuru Desa Sukawana dan prajuru Desa Tejakula.
5. Dalam perbaikan alat-alat seperti tombak, pengawin dan segala sarana yang terbuat dari logam apabila mengalami kerusakan dikerjakan oleh Desa Tejakula.
6. Untuk mengenang peristiwa yang bersejarah itu dibangunlah sebuah bangunan suci sebagai ungkapan rasa puji dan syukur kehadapan Ida Bhatara atas keputusan yang telah diambil. Bangunan suci tersebut kemudian diberi nama Pura Utus.

Krama Desa Tejakula dalam menghaturkan aci dan melaksanakan kewajiban lainnnya merupakan suatu bentuk kewajiban sebagai rasa bhakti kehadapan Ida Bhatara Bhatari dalam upaya memohon selain keselamatan juga untuk memelihara kelangsungan keberadaan serta tetap berfungsinya sumber air yang mengalir ke Desa Tejakula sebagai sumber kehidupan.

(Sumber : Desa Pakraman Tejakula)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,535 other followers

%d bloggers like this: